Aku adalah seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa. Namaku Sila. Sejak berumur 6 tahun, aku telah dijangkiti oleh penyakit yang cukup serius. Penyakit itu diturunkan oleh almarhum kakek dari bunda.
Setiap kali aku mengalami tekanan batin, jantungku selalu terasa sakit. Oleh karena itu, ayah dan bunda harus merawatku dengan cukup hati-hati.
Aku tidak boleh menyalahkan Allah atas penyakit yang diberikan-Nya ini padaku. Sebab bunda selalu memberi nasihat padaku kalau dibalik ujian yang Allah berikan pada kita, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil. Dan hikmah yang bisa kuambil dari ujian ini adalah, aku bisa lebih bersabar dalam menghadapi semua hal dan lebih bersyukur dengan apa yang Allah berikan padaku.
Rumahku terletak di pinggir danau. Memang rumahku tidak terlalu besar. Tetapi, aku bisa tinggal dengan nyaman di rumahku. Aku tinggal bersama dengan ayah dan bunda. Ya, aku adalah anak tunggal. Oleh sebab itu, aku tidak boleh mengeluh tentang penyakitku ini kepada orang yang kucintai, ayah dan bunda, aku takut mereka ikut bersedih.
Di sekeliling danau yang berada tepat di depan rumahku, tumbuh pohon yang cukup rindang dan cukup banyak. Tidak hanya pemandangan danau yang indah, di halaman rumah juga tumbuh tanaman yang cukup rimbun. Ada pohon beringin, pohon mangga, pohon pepaya, dll.
Setiap selesai sholat Subuh, aku selalu rajin menyirami bunga-bunga yang ditanam bunda di taman bunganya. Setelah itu, aku selalu berlari-lari di sekeliling danau dengan bertelanjang kaki untuk menikmati udara pagi hari dan sunrise yang memukau hati. Kudengar nyanyian burung yang bertengger di dahan pohon. Saat itu pula, kudekati pinggir danau yang tidak terlalu dalam. Kubercermin di air danau yang cukup bening dan memasukkan kedua tanganku ke dalam air. Dingin dan sejuknya air danau ini, batinku dalam hati. Kuambil air dengan kedua tanganku dan membasuhkannya ke wajahku. Wajahku yang dari tadi terasa lesu, sekarang telah terasa segar kembali.
Tiba-tiba saja terdengar teriakan bunda. Wanita yang paling kusayangi. Dengan jilbab panjang berwarna putih dan wajah yang sumringah, dia melambaikan tangan dan memanggilku dari arah teras rumah.
“Sil, cepat mandi! Kamu kan harus sekolah.”
“Baik, Bun. Aku segera kesana.”
Aku pun langsung berlari meninggalkan danau dan kicauan burung yang indah ini. Setibanya di rumah, aku bergegas menuju kamarku untuk mengambil seragam sekolah yang akan kukenakan. Kubuka lemari pakaian, dan didalamnya kuambil baju berwarna putih dan rok berwarna abu-abu serta jilbab putih. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi yang belum digunakan oleh seseorang.
Setelah 5 menit mandi, aku berdandan seadanya dan memakai jilbabku dengan rapi. Tidak lupa kupakai juga sepatu hitam yang berada di bawah meja belajar. Tiba-tiba bunda mengetuk pintu kamarku secara halus.
“Sil, cepat dandannya! Sekarang udah jam 6. Nanti kamu bisa terlambat sekolah,” kata bunda dengan suaranya yang halus.
“Baik, Bun,” jawabku sambil mengambil tas berwarna hitam yang dibelikan bunda pada tahun pertama aku masuk SMA.
Setelah keluar dari kamar, kuraih tangan bunda yang halus dan kucium tangannya untuk berpamitan.
“Bun, ayah ada dimana?”
“Ayah ada di depan,” jawab bunda.
Aku langsung pergi ke depan untuk menemui ayah yang sudah siap dengan sepeda motornya. Setiap akan berangkat sekolah, aku selalu diantar jemput oleh ayah, karena ayah dan bunda khawatir bila terjadi sesuatu yang buruk padaku. Maklumlah namanya juga anak satu-satunya yang mempunyai penyakit cukup serius.
“Assalamu’alaikum, aku berangkat dulu ya, Bun,” kataku pada bunda.
“Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan, Sil!” saran bunda.
Aku berangkat sekolah dengan diantar senyuman bunda yang khas.
Setibanya di gerbang sekolah, kuturunkan kakiku di tanah bumi yang Allah ciptakan ini. Tidak lupa kucium tangan ayah dan mengucapkan salam padanya.
Kulihat ayah yang sedang mengendarai sepedanya menuju tempat kerja. Kuiringi jalan ayah dengan senyuman terbaikku.
Setelah tidak terlihat lagi ayah dengan sepeda motornya, kulangkahkan kakiku menuju ruang kelas. Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bagiku sedang memanggil-manggil namaku. Kutengok kepalaku, dan ternyata yang terlihat adalah Intan, teman sebangkuku, orang yang tingginya hampir sepadan denganku. Akhirnya, aku dan Intan berjalan bersama menuju ruang kelas.
Setibanya di ruang kelas, kudengar suara riuh teman-temanku. Mereka terlihat sedang berbincang satu sama lain. Dari hal-hal yang mereka lakukan selama aku ketahui, mereka terlihat seperti anak kecil. Padahal, dari tingkatan kelas, mereka sudah cukup dewasa, yaitu sudah kelas 3 SMA.
Hari ini berlangsung seperti hari-hari biasa. Saat ada guru yang sedang mengajar dengan membosankan, dengan spontan, teman-teman telah melakukan aktivitas seperti sedia kala. Benar, mereka terlihat sedang bercengkerama dengan teman semejanya. Ada juga yang sedang bercermin, menyisir rambut, dan juga tertawa-tawa.
Saat waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Banyak dari teman-temanku yang berbicara satu sama lain, sehingga membuat suasana kelas menjadi gaduh. Pak guru yang terlihat marah langsung menyuruh Wulan, ketua kelas kami untuk menyiapkan kelas yang sudah mulai ramai seperti pasar. Setelah selesai, semua orang berlari menuju pintu keluar. Sedangkan aku dan Intan, seperti biasanya, keluar pada barisan belakang.
Saat aku dan Intan sedang berjalan di depan laboratorium bahasa, terlihat seorang lelaki yang membuat hatiku berdebar-debar. Baru kali ini aku merasakan sesuatu yang aneh. Apakah ini yang namanya. . . Sudahlah! Aku tidak ingin mempermasalahkan ini.
Tiba-tiba, Intan berbicara dengan lelaki tersebut.
“Mas, jangan sampai lupa! Nanti kita pulang bareng ya!” kata Intan pada lelaki tersebut.
“Baiklah. Tapi, tunggu aku sampai selesai bekerja!” kata lelaki tersebut.
Akhirnya, dengan tanpa memperkenalkan aku dengan lelaki tersebut, Intan langsung mengajakku pergi dari tempat tersebut.
Setibanya di gerbang sekolah, aku memberanikan diri untuk menanyakan hal yang sedang mengganjal dalam hatiku.
“Tan, lelaki tadi siapa sih? Kok aku belum pernah melihatnya?” tanyaku dengan jelas.
“Lelaki tadi adalah pegawai baru di sekolah kita. Emangnya kenapa, kok tanya begitu?” tanya Intan padaku dengan nada menggoda.
“Gak, cuma mau tanya,” jawabku dengan gugup.
Tiba-tiba, ayah sudah berada tepat di depan wajahku.
“Sil, ayo cepat pulang!” kata ayah.
“Baik, Yah,” jawabku pada ayah, kemudian kutengok wajahku ke arah Intan. “Aku pulang dulu ya, Tan. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Aku pun naik ke sepeda motor yang sedang ayah tumpangi. Dalam perjalanan pulang, aku hanya bisa membayangkan lelaki yang tadi berbicara bersama dengan Intan. Tidak kuhiraukan kata-kata yang keluar dari mulut ayah.
Astagfirullah. Aku tidak boleh seperti ini! Dia bukan siapa-siapa. Tapi, kenapa jantungku berdebar cukup kencang saat bertemu dengannya? Aku tidak boleh memikirkannya! Tidak boleh! Tapi, dia itu siapanya Intan, ya? Kataku hanya dalam hati.
Setibanya di rumah, kuucapkan salam seperti biasanya.
“Assalamu’alaikum!” ucapku.
“Wa’alaikum salam” jawab dua suara perempuan yang berasal dari dalam rumah.
Siapa ya, orang yang berada di rumah?
Saat kulangkahkan kaki ke dalam rumah, kulihat mbak Riya, sepupu jauhku yang bekerja di Amrik, sedang duduk manis di samping bunda. Dengan jilbab panjang berwarna merah muda, dia terlihat sangat cantik.
Mbak Riya adalah seorang muslimah yang cukup taat pada agama. Aku merasa bangga mempunyai kakak sepupu yang cantik dan taat seperti dia. Di sisi lain, aku juga iri dengan iman yang dimiliki mbak Riya. Aku ingin menjadi seperti mbak Riya.
“Mbak, kok udah ada di sini? Emangnya gak kerja?” tanyaku pada mbak Riya setelah duduk di sampingnya.
“Mbak lagi liburan. Selain itu, mbak ke sini juga ingin menyampaikan kabar baik.”
“Emangnya kabar baik apa?” tanyaku dengan raut wajah mengharap.
“Bulan depan, mbak akan melangsungkan pernikahan,” kata mbak Riya dengan senyuman.
“Bagus, dong! Lalu, siapa lelaki beruntung tersebut?”
“Dia bernama Ali. Dia adalah keturunan Arab dan Amrik.”
“Jadi, ceritanya, mbak Riya kegaet cowok bule, nih!” kataku menggoda mbak Riya.
“Iya! Lagipula, dia itu adalah seorang muslim yang cukup taat, lho!” kata mbak Riya dengan nada genit.
“Emangnya, dia setampan siapa sih, Mbak?”
“Pokoknya jauuuh deh sama harry potter kamu!” kata mbak Riya dengan nada mengejek.
“Masa sih!” jawabku sedikit marah.
Tiba-tiba bunda memotong pembicaraan kami berdua.
“Sudah dong berantemnya! Sila, sebaiknya kamu ganti baju dulu! Setelah itu, kita makan siang bersama,” perintah bunda dengan nada bijak.
“Baik, Bun”
Aku pun melangkah menuju kamar. Selesai berganti pakaian, aku berjalan menuju ruang makan, tempat ayah, bunda, dan mbak Riya berada. Aku duduk di samping mbak Riya. Di hadapanku, terlihat bunda yang sedang mengambilkan nasi untuk ayah. Kami berempat makan dengan lahapnya. Aku senang, dapat mengalami hal yang indah seperti ini. Makan bersama dengan orang yang kusayangi. Terima kasih Ya Allah.
Selesai makan siang dan sholat Ashar, aku bercengkerama bersama dengan mbak Riya. Kami duduk di bangku panjang di dekat taman bunga. Dari arah depan kami duduk, terlihat danau yang cantik nan menawan.
Sore itu, kami habiskan bersama untuk menghilangkan kerinduan yang terpendam. Dengan menikmati sunset dari balik danau, kudengarkan cerita panjang yang disampaikan mbak Riya. Aku senang sekali, mendengarkan cerita hidup yang dijalani oleh mbak Riya di Amrik.
Tiba-tiba, saat mbak Riya sedang membicarakan mas Ali, dia memegang kepalanya. Dan dari raut wajahnya, terlihat bahwa mbak Riya sedang menahan rasa sakit.
“Ada apa, Mbak?” tanyaku panik.
“Gak ada apa-apa, Dek,” jawab mbak Riya masih dengan memegang kepalanya.
“Tapi . . .”
“Gak apa-apa, Dek. Nanti juga sembuh sendiri.”
“Kalau begitu, sebaiknya kita masuk ke rumah, karena sekarang udah Maghrib,” kataku pada mbak Riya, saat kudengar suara adzan Maghrib memanggil.
Kami berdua pun masuk ke rumah. Kutuntun mbak Riya menuju kamar. Dengan masih memegang kepalanya, mbak Riya terlihat sedang menahan rasa sakit yang dideritanya.
“Mbak gak apa-apa?” tanyaku bingung, setelah kami tiba di kamar.
“Gak apa-apa, Dek,” jawab mbak Riya setelah duduk di tempat tidur.
“Apa yang bisa aku bantu, Mbak?” tanyaku bingung.
“Tolong ambilkan tas mbak di mejamu!” kata mbak Riya sambil menunjuk tas jinjing berwarna hitam di atas meja belajarku.
Kuambilkan tas tersebut dengan segera. Dan kuberikan tas milik mbak Riya kepadanya. Dengan cepat, mbak Riya membuka resleting tas hitam tersebut. Dari dalamnya, terlihat sebotol kecil pil berwarna hitam yang baunya cukup membuatku pusing.
“Sebenarnya, Mbak Riya sakit apa sih?” tanyaku dengan sedikit keberanian.
“Mbak cuma sakit kepala. Ntar, setelah minum obat juga sembuh sendiri,” jawab mbak Riya.
Sepertinya, jawaban mbak Riya tersebut tidak meyakinkan. Kataku dalam hati.
“Ya sudah. Sebaiknya, sekarang kita sholat Maghrib dulu, sebelum waktunya habis!” saranku pada mbak Riya.
“Baiklah. Ayo, Dek!” jawab mbak Riya dengan nada lemas.
Setelah wudhu, kami berdua sholat berjamaah di kamar sholat. Karena mbak Riya masih terlihat pucat, akhirnya aku yang menjadi imam untuknya. Dan mbak Riya hanya menjadi seorang makmum. Padahal, setiap kami sholat berjamaah, mbak Riyalah yang selalu menjadi imam untukku.
Selesai sholat Maghrib dan sholat Rawatib, aku tidak langsung makan malam. Melainkan, aku membaca Al-Qur’an untuk menjadi safaat saat aku meninggal nantinya. Kubaca surat An-Naba’ yang berisi 40 ayat beserta dengan artinya. Selesai membaca Al-Qu’an, aku pergi ke ruang makan untuk makan bersama yang kedua kalinya bersama dengan mbak Riya dalam hari ini.
Setelah makan malam dan sholat Isya’, aku tidur bersama dengan mbak Riya di kamar tidurku. Aku tidur di bagian kanan tempat tidur. Sedangkan mbak Riya, tidur di bagian yang lain.
Saat kumulai memejamkan mataku yang sudah tidak kuat terbuka, mbak Riya berkata sesuatu padaku.
“Dek . . .”
“Ada apa, Mbak?” tanyaku dengan mata seperti lampu menyala 5 watt.
“Kamu harus hidup bahagia ya!” kata mbak Riya dengan nada lirih.
“Iya, Mbak. Emangnya kenapa sih, kok mbak Riya bicara seperti ini?”
“Gak . . . gak ada apa-apa,” jawab mbak Riya dengan nada terbata.
“Ya udah. Sebaiknya, mbak Riya tidur dulu! Besok kan harus balik buat ngurusin pernikahan mbak Riya sama mas Ali.”
“Iya.”
Aku pun tidur, karena sudah tidak kuat menahan kantuk yang kurasakan. Aku bahkan tidak memperhatikan, apakah mbak Riya sudah tidur atau belum.
Saat semua orang masih terlelap dalam tidurnya, aku bangun untuk melaksanakan sholat Tahajud dan sholat Witir, sambil menunggu suara adzan berkumandang. Saat kubangun, ternyata, di sampingku sudah tidak ada mbak Riya.
Kudengar suara gemericik air yang berasal dari arah kamar mandi yang dekat kamar tidurku. Ternyata, suara tersebut ditimbulkan oleh mbak Riya yang sedang berwudhu. Setelah mbak Riya keluar dari kamar mandi, giliranku untuk masuk dan melakukan wudhu sebagai syarat sahnya sholat.
Selesai wudhu, kulihat mbak Riya sedang berdiri dengan mengenakan mukena putih milik bunda. Ternyata, mbak Riya sedang menungguku untuk sholat berjamaah. Pada sholat Tahajud kali ini, mbak Riya yang menjadi imam, seperti yang dulu.
Selesai sholat, tidak lupa kupanjatkan do’a kepada Allah, Sang Pencipta alam semesta. Dalam do’aku, aku ingin hidup dalam damai, tidak ada hal-hal buruk yang terjadi padaku dan kedua orangtuaku. Selesai berdo’a, aku membaca Al-Qur’an bersama dengan mbak Riya, sambil menunggu kumandang adzan subuh.
Kudengar suara adzan yang menyuruh para pendengarnya untuk segera terjaga dari tidurnya. Setelah tidak terdengar lagi suara adzan, aku dan mbak Riya kembali melaksanakan sholat. Sebelum melaksanakan sholat Subuh, kulaksanakan dulu sholat sunnah, yaitu sholat Fajar. Selesai melaksanakan sholat Fajar, aku dan mbak Riya melaksanakan sholat Subuh secara jamaah.
Pagi-pagi, mbak Riya sudah bersiap-siap akan kembali pulang untuk menangani segala hal yang berhubungan dengan masalah pernikahannya. Selesai sarapan, mbak Riya berpamitan pada ayah, bunda, dan aku.
Kuantar mbak Riya sampai ke halaman rumah. Di halaman rumah, sudah terlihat mobil Jaguar berwarna hitam sedang menunggu mbak Riya untuk masuk ke dalamnya. Saat mbak Riya sudah hampir sampai ke mobil tersebut, terlihat seorang lelaki tampan yang keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil bagian kiri depan.
Apakah itu orang yang bernama mas Ali? Sepertinya iya. Kata mbak Riya kan, mas Ali itu tampan. Kataku dalam hati saat memandang lelaki tersebut.
Setelah mbak Riya masuk ke mobil, orang yang kukira mas Ali tersebut, menutup pintu mobil bagian kiri, dan mulai menyalakan mesin mobil. Mobil tersebut melaju dengan kencang. Dengan sekejap, mobil yang ditumpangi mbak Riya telah hilang dari pandangan.
Selama seminggu lebih, aku tidak pernah bertemu dengan mbak Riya. Entah, apa yang terjadi padanya aku tidak tahu. Mungkin, mbak Riya terlalu sibuk untuk meneleponku, karena banyak hal yang harus ia urusi. Tetapi, saat meninggalkan rumahku, mbak Riya terlihat sangat pucat, seperti orang yang sedang sakit. Tapi, kenapa mbak Riya tidak pernah bercerita padaku, apa yang terjadi padanya?
Saat berada di sekolah, aku melihat Intan yang cukup akrab dengan mas Toni. Kenapa mereka akrab sekali? Tiba-tiba, perasaan tidak karuan, muncul dari hatiku. Apa yang terjadi padaku? Ada apa denganku?
Selama berhari-hari, aku merasakan bahwa fungsi jantungku mulai melemah. Hal itu terjadi sejak aku melihat keakraban yang ditunjukkan Intan dengan mas Toni di depan umum. Bahkan, sejak mas Toni bekerja di sekolahku, Intan tidak pernah lagi akrab padaku seperti yang dulu.
Suatu sore, saat aku sedang memetik mawar di taman bunga, kurasakan jantungku seperti hampir berhenti berdetak. Dengan rasa sakit yang tak tertahankan ini, aku jatuh pingsan sambil memegang mawar putih yang baru saja kupetik.
Kucium bau obat yang cukup menyengat. Mulai kubuka mataku secara perlahan. Kulihat tempat yang tidak asing bagiku, tempat bagi orang sakit sepertiku. Benar, sekarang aku telah berada di rumah sakit.
Kulihat bunda yang sedang duduk di samping kananku. Dengan menggenggam tangan kananku, terlihat bunda sedang menitikkan air mata.
“Ada apa, Bun?” tanyaku dengan suara lirih. “Kenapa Bunda menangis?”
“Sila, maafkan Bunda! Bunda tidak bisa mencarikan jantung yang kamu butuhkan, jantung yang cocok untukmu” jawab bunda dengan suara terisak.
“Tidak apa-apa, Bun. Mungkin sampai saat ini saja jantungku bisa berdetak. Maafkan segala kesalahan Sila ya, Bun!”
Tidak terdengar jawaban yang keluar dari mulut bunda. Aku tahu, bahwa bunda sedang menyimpan kesedihannya di dalam hati.
“Bun, ayah ada di mana?” tanyaku pada bunda untuk mencairkan suasana.
“Ayah sedang di ruang dokter. Tadi, dokter menyuruh ayah untuk ke sana. Sepertinya, ada hal penting yang ingin disampaikan oleh dokter.”
Tiba-tiba, terdengar suara pintu yang sedang dibuka dari luar. Dari balik pintu, terlihat ayah sedang berjalan bersama dengan dokter.
“Sila, ada kabar baik untukmu,” kata dokter yang telah berada di dekatku.
“Kabar baik apa, Dok?” tanyaku.
“Ada orang yang telah dengan rela mendonorkan jantungnya untukmu,” jawab dokter.
“Alhamdulillah,” jawabku serempak dengan bunda.
“Tapi . . .” kataku saat melihat raut wajah ayah yang sedih. “Kenapa Ayah terlihat sedang bersedih?”
“Oh! Tidak apa-apa, Sila. Ayah hanya senang, sebentar lagi kamu akan sembuh dari penyakitmu ini,” jawab ayah dengan senyum yang sepertinya dibuat-buat.
Siang hari selesai sholat Dhuhur, dokter melakukan operasi jantung padaku.
Sebelum masuk ke ruang operasi, aku merasakan ada hal aneh sedang terjadi. Ayah dan bunda tidak terlihat senang. Tetapi, mereka terlihat sangat sedih.
Kubuka mataku dengan perlahan. Terlihat jam telah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Di samping tempat tidurku, terlihat ayah, bunda, Intan, mas Toni bersama dengan dokter sedang berdiri.
Intan? Mas Toni? Apa yang mereka lakukan di sini?
“Dokter?” kataku lemas.
“Iya!” jawab dokter.
“Tolong beritahukan kepada saya, siapa orang yang telah dengan suka rela mendonorkan jantungnya kepada saya!” kataku memaksa.
“Apakah harus saya katakan, Bu?” tanya dokter kepada bunda.
“Terserah Dokter saja,” jawab bunda.
“Begini, Sila. Orang yang telah mendonorkan jantungnya kepadamu adalah seorang perempuan yang bernama Riya,” kata dokter dengan hati-hati.
Riya? Apakah mbak Riya? Kenapa dia melakukannya? Teriakku dalam hati.
“Sila, kamu harus mengerti dengan apa yang mbak Riya lakukan kepadamu!” kata bunda.
“Apa maksud Bunda?” tanyaku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan bunda.
“Kata dokter, mbak Riya telah mempunyai penyakit kanker otak yang cukup parah. Dia ingin, agar kamu bisa hidup bahagia dengan jantung yang dia miliki,” kata bunda.
Ya Allah. Ternyata, yang dulu mbak Riya katakan kepadaku, agar aku bisa hidup dengan bahagia adalah ini. Dengan memberikan jantung yang dia miliki untukku. Besar sekali pengorbananmu kepadaku Mbak Riya! Tidak akan kusia-siakan semua hal yang telah kau berikan padaku. Terima kasih mbak Riya. Terima kasih Ya Allah.
“Ini, ada Intan bersama dengan kakaknya, ingin menjengukmu!” kata bunda padaku dengan menunjuk Riya dan mas Toni.
Selasa, 12 April 2011
Hidupku adalah Anugrah
Diposting oleh sholichah di 20.22 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
